Jalan pulang itu kini menjelma
gelegak arus yang tak ramah, meninggi dan menderas tanpa dapat diterka.. apakah
hanya sekedar singgah sebagai ujian ataukah bermakna murka dari sang pemilik
muara kehidupan, bahwa jalan itu telah sepi dari sang pecinta dan perindu untuk
mencinta dan merindu berpulang kepadaNya.
Bunda.. nek.. adek.. kakak.. nun
jauh di balik kelok jalan dan terjal perbukitan yang menghalangi pandang antara
kita.. bahkan jalan yang tak lagi dapat dilalui untuk bertatap wajah. Pun tetap
akan mengalir bagi kalian deras do’a dan air mata.. bahkan lebih deras dari
pecahnya bah di penghujung malam itu.
Langit yang merintik, meneteskan
berkah dibelahan tanah yang lain.. namun ditanah kita ia menjadi petaka,
menjadi marka untuk ditafakuri bersama.. bukan sekedar menjadi latah bahwa
rindu itu milik kita. Tapi dengan keyakinan yang bersemayam erat di dada. Ada
hikmah yang menanti diujung cakrawala esok hari.. untuk senja ini yang berkilau
diantara suram muramnya wajah-wajah para pengungsi, mari tetap bertasbih,
bertahmid, bertakbir dan beristiadzah.. karena ada nilai yang berbeda pada
setiap tarikan nafas para perinduNya..
Untuk setiap kelok jalan ditanah
kita.. kusesap duka dalam dekapan do’a:
"Robbana dholamna anfusana
wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin,"
~ Ya Tuhan kami telah menganiaya
diri kami sendiri & jika Engkau tidak mengampuni kami niscaya kami termasuk
orang-orang yg merugi.~ (QS. al-A'raf : 23).
![]() |
Jalan Pulang |
ya Allah ampuni dosa-dosa kami aaamiin
mohon maaf lahir batin yaaa Kak Liyan